Sunday, June 08, 2008

SEPUCUK SURAT DARI SEORANG AYAH

Sepucuk surat dari seorang ayah


Aku tuliskan surat ini atas nama rindu
yang besarnya hanya Allah
yang tahu. Sebelum kulanjutkan,
bacalah
surat ini sebagai
surat
seorang laki-laki
kepada seorang laki-laki;
surat seorang ayah
kepada seorang ayah.
Nak, menjadi ayah itu indah
dan mulia. Besar kecemasanku
menanti kelahiranmu dulu
belum hilang hingga saat ini.
Kecemasan yang
indah karena ia didasari
sebuah cinta.Sebuah cinta yang
telah terasakan
bahkan ketika yang dicintai
belum sekalipun kutemui.
Nak, menjadi ayah itu mulia.
Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan
Rasul dan temukanlah betapa
nasehat yang terbaik itu dicatat
dari dialog seorang ayah
dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian,
ketahuilah Nak, menjadi ayah
itu berat dan sulit.
Tapi kuakui, betapa sepanjang
masa kehadiranmu di sisiku,
aku seperti menemui
keberadaanku, makna
keberadaanmu,
dan makna tugas
kebapakanku terhadapmu.
Sepanjang masa keberadaanmu
adalah salah satu masa
terindah dan paling
aku banggakan di depan siapapun.
Bahkan dihadapan Allah,
ketika aku duduk berduaan
berhadapan dengan Nya,
hingga saat usia senja ini.
Nak, saat pertama engkau
hadir, kucium dan kupeluk
engkau sebagai
buah cintaku dan ibumu.
Sebagai bukti, bahwa aku
dan ibumu
tak lagi terpisahkan oleh
apapun jua.
Tapi seiring waktu, ketika
engkau suatu kali telah
mampu berkata:"TIDAK",,,,,,
timbul kesadaranku siapa
engkau sesungguhnya. Engkau
bukan milikku, atau milik ibumu Nak.
Engkau lahir bukan karena cintaku
dan cinta ibumu. Engkau adalah
milik Allah. Tak ada hakku
menuntut pengabdian darimu.
Karena pengabdianmu semata-mata
seharusnya hanya untuk Allah.
Nak, sedih,pedih dan
terhempaskan rasanya menyadari
siapa
sebenarnya aku dan siapa engkau.
Dan dalam waktu panjang
di malam-malam sepi,
kusesali kesalahanku itu
sepenuh -penuh air mata
dihadapan Allah.
Syukurlah, penyesalan
itu mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya
usahaku adalah mendekatkanmu
kepada pemilikmu yang sebenarnya.
Membuatmu senantiasa berusaha
memenuhi keinginan pemilikmu.
Melakukan segala sesuatu
karena Nya, bukan karena
kau dan ibumu.
Tugasku bukan membuatmu
dikagumi orang lain,
tapi agar engkau
dikagumi dan dicintai Allah.
Inilah usaha terberatku Nak,
karena artinya aku harus
lebih dulu memberi contoh
kepadamu dekat dengan Allah.
Keinginanku harus lebih dulu
sesuai dengan keinginan Allah.
Agar perjalananmu
mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai
perjalanan itu berdua,
tak pernah engkau
kuhindarkan dari kerikil
tajam dan lumpur hitam.
Aku cuma menggenggam
jemarimu dan merapatkan
jiwa kita satu
sama lain. Agar dapat kau
rasakan perjalanan ruhaniah
yang sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan,
kukuatkan engkau karena kita
memang tak boleh berhenti.
Perjalanan mengenal Allah
tak kenal letih dan berhenti, Nak.
Berhenti berarti mati,
inilah kata-kataku tiap kali
memeluk dan menghapus air
matamu,
ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti,
ketika semua manusia
dikumpulkan di hadapan Allah,
dan kudapati jarakku
amat jauh dari Nya,
aku akan ikhlas.
Karena seperti itulah
aku di dunia. Tapi,,,
kalau boleh aku berharap,
aku ingin saat itu aku
melihatmu dekat dengan Allah.
Aku akan bangga Nak,
karena itulah bukti bahwa
semua
titipan bisa kita kembalikan
kepada pemiliknya.
 
Dari ayah yang senantiasa
merindukanmu.
 

No comments:

Post a Comment